MENGUAK MISTERI KAYEHAN DEDARI DI TEBING TUKAD NYULING

Filter Post

MENGUAK MISTERI KAYEHAN DEDARI DI TEBING TUKAD NYULING


Tim Penelitian Balai Arkeologi bersama Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem atas undangan masyarakat melaksanakan survei pada hari Sabtu, 10 Oktober 2020, terhadap tinggalan budaya berupa struktur yang disebut Kayehan Dedari. Tinggalan ini berada di Lingkungan Pendem, Kelurahan Karangasem, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, secara astronomi berada pada koordinat 8o.438’713” S; 115o.26’20”E; dengan ketinggian 120 meter di atas permukaan laut.

 

Kayehan Dedari (permandian bidadari) adalah sebuah tempat yang berada pada tebing barat Sungai Nyuling, kondisinya sangat alami ditumbuhi semak belukar dan pepohonan besar sebagai daur hidrologi maupun penahan longsor. Aliran air Sungai Nyuling  cukup deras, yang dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi dan mencari ikan. Di tengah sungai terdapat batu andesit berukuran besar dari letusan Gunung Agung, sedangkan dinding tebing berupa batuan konglomerat yang cukup keras.

 

Pada tebing ini muncul sumber mata air berupa rembesan, ditampung pada tiga kolam kecil yang disebut Kayehan Dedari, dua kolam diberikan penutup dari susunan batu andesit, dan satunya lagi yang berukuran lebih besar,  dibiarkan terbuka.

 

Sesepuh dan Kepala lingkungan Pendem I Nyoman Alit (73) dan I Gede Ariadi (44) yang diwawancarai hari Sabtu, 10 Oktober 2020, menjelaskan bahwa Kayehan Dedari ini telah ada sejak dahulu, airnya dahulu dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, namun kini hanya difungsikan untuk tujuan sakral yaitu untuk melukat guna memohon kesembuhan, maupun memohon air suci. Areal ini sangat dikeramatkan warga, dan untuk menjaga kesuciannya maka orang-orang yang dalam keadaan cuntaka tidak diperkenankan mengunjungi atau bersembahyang di tempat ini.

 

Perihal kayehan dedari ini sangat populer di kalangan masyarakat Bali, diilhami cerita turunnya bidadari dari surga, ke tempat permandian yang memiliki sumber mata air. Kayehan ini memiliki lingkungan alam yang alami, eksotis, dan keramat, sehingga banyak orang yang datang untuk memohon keselamatan.

 

Ditulis oleh: I Gusti Made Suarbhawa, I Nyoman Rema, I Gede Arya Prima Indrayana, dan Ni Luh Dila Apsari