PENELITIAN TEROWONGAN BENDUNGAN TAMBLANG

Filter Post

PENELITIAN TEROWONGAN BENDUNGAN TAMBLANG


Bendungan Tamblang secara administratif mencakup Desa Sawan, Desa Bila dan Desa Tamblang di Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng. Lokasi bendungan terletak pada koordinat 8.12913° LS dan 115.18090°BT di ketinggian 158 mdpl. Kegiatan Penanggulangan Kasus dilaksanakan berdasarkan undangan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, yang sebelumnya mendapatkan informasi tentang ditemukannya terowongan buatan manusia di lokasi pengerjaan Bendungan Tamblang. Balai Arkeologi Bali kemudian melakukan observasi dan survei di lokasi terowongan dan sekitar Bendungan Tamblang. Menurut informasi yang diperoleh dari Tim Proyek Pembangunan Bendungan Tamblang, yang diwakili oleh senior geologist  Herry Suwondo, terdapat 8 titik lokasi ditemukannya terowongan air yang semula diduga dibuat pada masa pendudukan Belanda di Bali.  Namun hanya dua lokasi yang dapat diamati karena menyangkut faktor keamanan pengunjung proyek.  Terowongan lokasi 1 terletak tepat pada sumbu bendungan, memiliki panjang 480 meter. Setelah dilakukan observasi ke dalam terowongan, terdapat bekas-bekas pengerjaan oleh manusia dan beberapa ceruk kecil yang diduga sebagai tempat meletakkan sumber cahaya untuk penerangan. Terowongan lokasi 2 terletak di sebelah selatan (hulu) Sungai Aya atau Tukad Aya. Terowongan ini belum terganggu oleh pengerjaan proyek bendungan.  Setelah diselidiki, tampaknya sedimen sungai sudah masuk ke dalam lubang, sehingga tidak memungkinkan untuk masuk lebih jauh ke dalamnya. Namun berdasarkan perkiraan dimensinya sama dengan terowongan di lokasi 1 yaitu lebar mulut 70 cm dan tinggi 170 cm. Lokasi ini nantinya akan menjadi dasar bendungan dengan kedalaman ±170 meter. Selain temuan fitur terowongan atau saluran air, di sekitar lokasi proyek Bendungan Tamblang, juga ditemukan 3 buah sarkofagus yang terletak di tegalan dan halaman rumah penduduk setempat. Lokasinya terletak di atas lokasi terowongan 2  Tukad Aya. Ketiga sarkofagus berbahan tufa,  dengan tonjolan sederhana berbentuk segiempat pada keempat sisi, namun hanya bagian wadah saja. Satu sarkofagus yang paling besar telah dibuatkan bangunan pelindung oleh almarhum penemunya dan posisinya masih insitu. Dengan ditemukannya terowongan air kuno di lokasi Proyek Bendungan Tamblang, dan tiga buah sarkofagus di sekitarnya, secara kontekstal dapat  dikaitkan dengan temuan serupa berupa terowongan atau gua, di Pura Gunung Lebah – Desa Suwug dan gua di Desa Sangsit Kecamatan, Sawan Kabupaten Buleleng. Terowongan di Desa Sangsit sebelumnya pernah diteliti oleh Balai Arkeologi Bali pada tahun 2019, menunjukkan angka tahun 933 Saka (1011 Masehi) berdasarkan prasasti, atau inskripsi yang ditemukan pada dinding dekat mulut gua atau terowongan tersebut. Temuan sarkeofagus mengindikasikan,  terdapatnya budaya atau penghunian berlanjut di kawasan ini , sehingga memiliki makna yang sangat penting untuk dilestarikan dan selanjutnya dapat memperkaya khasanah kesejarahan khususnya peradaban Bali Utara.

 

Oleh: I Gusti Made Suarbhawa, I Putu Yuda Haribuana, I Wayan Sumerata, I Gede Awantara