BENTANG BUDAYA KOSMOLOGIS KERAJAAN BALI KUNO: KAJIAN KEARIFAN LINGKUNGAN DALAM UPAYA MENDUKUNG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Saring Konten

BENTANG BUDAYA KOSMOLOGIS KERAJAAN BALI KUNO: KAJIAN KEARIFAN LINGKUNGAN DALAM UPAYA MENDUKUNG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


Banua Gebog Domas  merupakan persekutuan desa adat yang berpusat di situs Pura Pucak Penulisan Desa Sukawana Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Penelitian survei diawali dengan observasi, wawancara mendalam dan FGD (Focus Group Discussion), dan studi pustaka. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif, analisis contents (isi), dan analisis kontekstual. Pendekatan penelitian, yaitu  Etnoarkeologi, Semiotika Budaya dan teori Ekologi Budaya.

 

Hasil Penelitian dapat diilustrasikan sebagai berikut. Kosmologi Banua Gebog Domas yang berpusat di situs Pura Pucak Penulisan Desa Sukawana merupakan warisan budaya dari komunitas Bali Mūla ( Bali Aga) Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli  yang sangat kaya dengan warisan budaya Arkeologis, baik yang bersifat tangible (budaya material) maupun intangible ( budaya immaterial). Benda-benda Arkeologi dari masa prasejarah (tradisi prasejarah) hingga masa klasik (Hindu-Budha) ditemukan tersebar pada situs-situs pura yang ada di desa-desa pada kawasan tersebut. Warisan budaya prasejarah di antaranya: sarkofagus, punden berundak, menhir, arca megalitik, hiasan tanduk kerbau pada bangunan bale agung, pintu cangapit, bale catur, dan jenis lainnya. Selain itu, warisan sosio-kultural yang dihipotesiskan berasal dari tradisi prasejarah (megalitik), yaitu sistem pemerintahan dalam struktur ulu-apad pada desa-desa adat (Bali Age) yang dipimpin oleh Jero Kubayan/Kabayan.Warisan budaya klasik (Hindu-Budha) di antaranya: prasasti, arca perwujudan, arca dewa, lingga dan yoni, palinggih konco (Budhis), uang kepeng, dan yang lainnya.

 

Pada umumnya warisan budaya  material tersebut disimpan atau menyatu dengan  bangunan –bangunan suci (palinggih/pura). Warisan budaya tersebut masih difungsikan secara social religius (living monument) sebagai media pemujaan terhadap arwah leluhur, dewa/dewi atau kekuatan alam tertentu (Animisme) untuk memohon kerahayuan (keselamatan dan kesehatan), kesuburan, kemakmuran dan kesejahetraan masyarakat dan lingkungannya;

 

Konsep kosmologi Gebog Domas yang berarti kumpulan delapan ratus yang terdiri atas empat gebog satak (kumpulan dua ratus), yaitu  Gebog Satak Sukawana, Gebog Satak Kintamani, Gebog Satak Selulung dan Gebog Satak Bantang, merupakan worlview komunitas Bali Mūla (Bali Asli) di Kintamni-Bangli sebagai subrumpun sukubangsa  Austronesia yang menggambarkan sebuah mandala (catur bhuwana) yang bersifat kosmis-magis.

 

Berdasarkan  isi prasasti dan data Etnoarkeologi, menunjukkan bahwa pola pemerintahan masyarakat Bali Mūla terstruktur dalam  Ulu-Apad dengan kedudukan Jero kubayan sebagai tokoh sentral tertinggi dan dipandang sakral (pilihan dewa). Dihipotesiskan, bahwa pola pemerintahan tradisional ini  berasal dari Zaman Pra-Hindu (Prasejarah) dan berlanjut pada masa Bali Kuno, bahkan hingga di era Postmodern ini. Berdasarkan data prasasti yang ditemukan di Banua Gebog Domas dan nama-nama raja yang disebutkan di dalamnya, jelas menunjukkan bahwa selain sistem pemerintahan kerajaan (Kingdom) Bali Kuno (abad IX-XIV M), pada masing-masing Desa seperti halnya di kawasan Banua Gebog Domas (Bali Mūla) yang berpusat di Pura Pucak Penulisan Kecamatan Kintamani, sistem pemerintahan tradisional lokal dengan struktur Ulu-Apad yang dipimpin oleh Kubayan (Kabayan) terus berlangsung (bersitat swatantra/otonom). Kubayan (Rāma Kabayan) maupun Raja pada saat itu (Bali Kuno) diperkirakan mempunyai peranan penting dalam pengelolaan warisan budaya, khususnya bangunan suci.

 

Berdasarkan data Artefak Arkeologi ( arca, prasasti, babad), dan oral tradition (mitos dan legenda), dan data ekofak (sumberdaya air), kosmologis Gebog Domas Pura Pucak Penulisan  Desa Sukawana sebagai gunung sakral mempunyai hubungan signifikan dengan kawasan Zone Tengah (Pejeng-Bedahulu) dan Zone  Hilir, baik di Bali Selatan maupun Bali Utara (Kabupaten Buleleng).

 

Secara implisit kosmologi Gebog Domas Pura Pucak Penulisan sebagai kawasan hulu mengandung kearifan (etika) lingkungan terkait dengan konservasi sumberdaya air guna mendukung pembangunan berkelanjutan.

 

Ditulis oleh: I Nyoman Wardi