MENELUSURI GUA HUNIAN DAN SENI CADAS DI KABUPATEN ALOR - 2018

Saring Konten

MENELUSURI GUA HUNIAN DAN SENI CADAS DI KABUPATEN ALOR  - 2018


Arkeolog dari Balai Arkeologi Bali pada bulan Juli 2018 melakukan penelitian awal ke gua-gua hunian dan seni cadas yang tersebar pada sejumlah wilayah di Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur.  Tim terdiri dari empat peneliti yakni; Ati Rati Hidayah,S.S.,M.A, Drs.I Dewa K.Gede, I Putu Yuda Haribuana,S.T., dan Hedwi Prihatmoko,S.Hum. Para peneliti dibantu tiga staf yakni Ni Wayan Srinanti, Ni Ketut Ari Nuriadi dan Wulan Eka Windayani. Sekitar tujuh lokasi gua yang disasar antara lain Gua Dibloing Mademang-Pureman, Gua Batu Bertulis Youbleni dan Hamparan Batu Berukir di Mainang-Alor Tengah Utara, Gua Makpan, ceruk Tronbonlei dan Bailei di Halerman-Alor Barat Daya. Penelitian kali ini bersifat survei awal sehingga baru menginventaris dan mengidentifikasi potensi situs yang ditemukan. Penelitian menyasar pada  gua-gua dan seni cadas pada dinding-dinding gua. Baik itu bentuknya rock painting (lukisan gua) atau  rock engraving (pahatan). Penelitian ini menemukan kedua-duanya, karena pada Gua di Mainang dan di Mademang itu ditemukan seni cadas berupa pahatan pada dinding gua.

Ceruk Tron Bon Lei di Dusun Lerabaing, Desa Halerman, Kecamatan Alor Barat Daya

Seni cadas yang ditemukan di dinding ceruk berupa lukisan berbentuk perahu, tapak tangan manusia, gambar naga, ayam, figur manusia dan bentuk geometris lainnya. Selain itu ditemukan pula fragmen atau serpihan benda-benda seperti tembikar dan alat batu yang diperkirakan dari jaman prasejarah.Sedangkan yang rock painting, ditemukan pada gua di Lerabaing, Kecamatan Alor Barat Daya. Beberapa lokasi telah dilakukan penelitian oleh Universitas Gadjah Mada  (UGM) dan Australian National University (ANU), misalnya di Lerabaing yang telah menghasilkan beberapa artikel dan sudah dipublikasikan pada jurnal internasional. Sedangkan seni cadas di Mainang, telah ditulis dalam jurnal Rock Art Research dan disimpulkan sementara bahwa berasal dari budaya Austronesia.

Ceruk Youbleni di Desa Mainang, Kecamatan Alor Tengah Utara

Penelitian ini juga menemukan beberapa data baru yang diperoleh di kawasan Mainang. Seni cadas dapat diketahui kronologinya atau pertanggalannya melalui teknologi pertanggalan yang lebih canggih, sehingga dapat diketahui kapan dibuat. Namun untuk penelitian kali ini analisis penanggalan hanya dilakukan dengan pertanggalan relatif salah satunya dari hasil perbandingan dengan situs lain yang sejenis. Salah satu gua yang potensial yaitu Gua di Halerman itu dari segi morfologi bentuk guanya cukup besar. Gua tersebut memenuhi kriteria gua hunian karena jaraknya dari pantai tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat sehingga aman dari ombak. Kemudian ada ruang yang datar dalam gua dengan ukuran cukup luas karena panjang gua di Halerman itu sekitar 88 meter, lebar 16 meter dan tinggi 7 meter, selain itu deposit yang ada di dalam gua tersebut cukup dalam sehingga banyak menyimpan data yang belum terungkap.

 

Seni Cadas di Yamakope, Mainang, Kecamatan Alor Tengah Utara (atas) dan Seni Cadas di Gua Di Bloing, di Dusun Mademang, Desa Langkuru, Keamatan Pureman, Alor (bawah)

Salah satu metode arkeolog untuk mendapat data yaitu dengan cara eskavasi (menggali) sehingga kita bisa mencari banyak data, jejak kehidupan manusia di sana untuk melihat kehidupan masa lalu seperti apa. Baik sengaja atau tidak sengaja manusia meninggalkan jejak. benda-benda peninggalan bisa saja tidak dikuburkan manusia, tetapi karena waktu berlalu dan deposit secara alami terjadi sehingga otomatis akan terkubur. Ada juga benda-benda yang sengaja dikuburkan pada jamannya. Dari hasil penelitian ini yang harus kita perhatikan adalah ada ancaman yang merusak seni-seni cadas pada dinding gua-gua di Alor. Contohnya di Gua Youbleni di Mainang, ada aksi vandalisme yakni coretan-coretan baru di dinding gua yang merusak keaslian seni cadas yang ada. ancaman lain di Mainang dan situs lainnya adalah aktifitas pembakaran lahan sekitar mengancam kerusakan situs.  Ancaman-ancaman kerusakan ini yang perlu diantisipasi oleh kita semua. Kita harus mensosialisasikan manfaat besar dari situs gua-gua hunian dan seni cadas yang ada di Kabupaten Alor.

Lokasi Penelitian

Semakin masyarakat mengetahui gua-gua itu punya nilai penting, maka kesadaran masyarakat untuk menjaga juga akan tumbuh. Apalagi bila disosialisasikan juga manfaat bagi masyarakat sekitar apabila situs tersebut sudah dikembangkan. Dari sisi ilmu pengetahuan, gua-gua hunian itu untuk melihat alur migrasi kehidupan manusia dan peradabannya di masa lampau. Dampak positip bagi masyarakat, ketika ada penelitian di gua-gua tersebut kemudian dipublikasikan ke dunia internasional, maka otomatis obyek gua-gua itu akan dikunjungi oleh wisatwan minat khusus baik domestik maupun manca negara. Hal ini  tentu saja membutuhkan kerja sama antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk memanfaatkan potensi besar tersebut. Alor memilik potensi pariwisata yang luar biasa karena alamnya yang luar biasa, termasuk keberadaan gua-gua hunian masa lampau akan menambah pesona wisata budaya di Alor. Kabupaten Alor menjadi prioritas Balai Arkeologi Bali karena berada di daerah perbatasan, sehingga wilayah-wilayah terluar perlu di eksplore lebih lanjut.

 

Ditulis oleh: Ati Rati Hidayah