PENELITIAN ARKEOLOGI DI KABUPATEN BELU, NUSA TENGGARA TIMUR - 2018

Saring Konten

PENELITIAN ARKEOLOGI DI KABUPATEN BELU, NUSA TENGGARA TIMUR - 2018


Belu adalah salah satu dari 21 kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan ibukotanya di Atambua, yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste. Penelitian di daerah perbatasan sebagai salah satu strategis Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, yaitu: kebinekaan, kemaritiman, dan wilayah perbatasan. Penelitian arkeologi yang telah dilakukan di Belu masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian lebih jauh. Penelitian ini akan menjawab permasalahan mengenai tinggalan arkeologi apa saja yang terdapat di Kabupaten Belu, dan potensi pengembangannya baik untuk kepentingan ilmu arkeologi maupun untuk kepentingan pelestarian. Metode yang digunakan berupa survei dikombinasikan dengan wawancara, observasi, dan ekskavasi. Hasil penelitian berupa fosil gading stegodon, alat-alat litik, bangunan tradisi megalitik seperti ksadan, aitos – foho – bosok. Arca menhir berkepala tiga, arca menhir kepala empat, arca sejoli. Semuanya itu ditemukan pada kampung adat. Hasil ekskavasi di Pelabuhan Atapupu menemukan pecahan-pecehan kramik Cina, gerabah, manik-manik. Bagunan kolonial yang ditemukan adalah sebuah gereja tua yang kontruksi bangunannya dari Portugal.

 

Hasil penelitian geologi, bahwa daerah Timor Barat, Nusa Tenggara Timur terdapat lapisan geologi Plestosen yang mengandung vosil vertebrata salah satunya adalah  binatang Stegodon atau gajah purba. Binatang Stegodon ini  berasal dari daratan Asia,  terus berimigran ke Jawa, dari Jawa ke Sumba, ke Sulawesi, ke Flores. Dari Flores merimgran  ke Timor (Hardjasasmita 1982, 530 ). Analisis pertanggalan dengan menggunakan Uranium Series, dilakukan terhadap fosil yang ditemukan di Situs Weaiwe Atambua yang masih satu wilayah dengan DAS Sadi, dan menghasilkan umur  130 ribu tahun yang lalu (Louys et al 2016). Adanya temuan alat-alat litik memberi petunjuk bahwa sudah ada manusia pendukungnya yang hidup pada masa Paliolitik. Adanya temuan bangunan tradisi megalitik seperti ksadan, aitos – bosok – foho,arca menhir, di kampung-kampung adat di Belu, menunjukkan bahwa kebudayaannya lebih maju lagi yaitu ke masa neolitik dengan sebuah budaya yang disebut dengan budaya megalitik. Budaya megalitik merupakan budaya yang bersifat universal, dimana konsep utamanya adalah pemujaan terhadap roh leluhur (Soejono 1975, 191- 198).  Kebudayaan megalitik berlangsung berkisar  3000 tahun yang lalu. Daerah Timur Barat merupakan salah satu tempat yang merupakan living megalitik tradition, yang banyak memberikan informasi penting dalam studi etnoarkeologi yang bertujuan mengungkap peninggalan masa lalu dengan melihat keadaan sekarang.  Batu temu gelang (Ksadan), sampai saat ini masih difungsikan sebagai upacara pelantikan raja, kepala suku, upacara berburu, upacara waktu musim tanam, upacara setelah panen, dan pesta rumah adat. Sedangkan Aitos, Foho, Bosok, dimanfaatkan untuk upacara turunya Leluhur, pemujaan untuk mohon kekuatan dalam perang, pemujaan untuk mohon kesuburan pertanian, pemujaan untuk mohon berkah, persembahan hasil panen, pemujaan untuk mohon turunya hujan, pemujaan untuk mohon kepandaian, pemujaan untuk mengusir wabah penyakit.

 

Di Pelabuhan Atapupu telah ditemukan beberapa keramik utuh (guci, tempayan) dan pecahan, dari Cina.  Dari ciri-ciri yang dimiliki, kramit tersebut berasal dari negeri  Dinasti Yuan – Ming abad XIII - XIV Masehi. Ini memberi petunjuk bahwa orang-orang cina sudah mengadakan kontak dagang dengan orang-orang Belu/Atambua. Karana Atambua NTT terkenal dengan kayu cendananya yang berkualitas, madu dan lilin.  Selanjutnya adanya tinggalan Gereja Nualain,  merupaka gereja tua yang didirikan tahun 1938 yang didirikan pada masa pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia. Menunjukkan adanya pengaruh budaya Katolik yang sampai saat sekarang mayoritas masyarakat Belu menganut agama Katolik. Namun mayarakat masih tetap mempertahankan kebudayaan lama yaitu tradisi megalitik.

Gereja Tua Nualain, Belu NTT

 

Ditulis oleh: A. A. Gde Bagus