PENELITIAN HIDRO-ARKEOLOGI DI DAS PETANU KABUPATEN GIANYAR - 2018

Saring Konten

PENELITIAN HIDRO-ARKEOLOGI DI DAS PETANU KABUPATEN GIANYAR - 2018


Penelitian tentang hidro-arkeologi tidak bisa dilepaskan dari tinggalan arkeologi, air, sungai dengan ekologinya serta masyarakat pendukung budaya tersebut. Hidrologi itu sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ekologi. Masyarakat masa lampau memperlakukan air sebagai sumber kehidupan, dalam pengelolaannya dikaitkan dengan sistem kepercayaan yang mereka anut. Dalam mengimplementasikan sistem teologi, didirikanlah bangunan suci sebagai media pemujaan, dengan mempertimbangkan filosofi kepercayaan dan ekologis. Tradisi yang dilandasi oleh keyakinan masyarakat akan pentingnya air dalam kehidupannya diwujudkan dalam perilaku dalam bentuk pemuliaan melalui bangunan suci di sepanjang daerah aliran sungai, tidak menebang kayu sembarangan, pembentukan sekaa, subak dan lain-lain.

Cetakan Nekara di Pura Puseh Bale Agung Kenderan

 

Belakangan ini tampaknya perilaku masyarakat berkenaan dengan sungai mengalami degradasi dimana masyarakat memperlakukan sungai sebagai tempat membuang limbah, dan segala jenis kotoran. Penelitian ini mengangkat masalah yaitu apa saja tinggalan arkeologi yang ada di sepanjang daerah aliran Sungai petanu dan bagaimana wujud kearifan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya air. Metode pengumpulan data yang diterapkan ialah survei, wawancara, dan studi pustaka, sedangkan dalam analisisnya ialah Analisis kualitatif, yaitu melalui (1) reduksi data, yaitu penyederhanaan dan tranformasi data kasar yang diambil dari catatan penelitian, (2) penyajian data secara deskriptif yang disajikan melalui narasi-narasi, dan (3) penarikan kesimpulan. Tujuannya untuk menginventarisasi tinggalan budaya yang terdapat di DAS Petanu, dan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung melalui tinggalan budaya yang terkait dengan pengelolaan air. DAS Petanu menyimpan tinggalan arkeologi dari prasejarah dan masa klasik. Prasejarah ditunjukkan oleh tinggalan sarkofagus Pakudui yang terdapat di Desa Kedisan, sarkofagus Batulusu 1 dan 2 di Desa Kendran, sarkofagus Padangsigi di Desa Sanding, dan sarkofagus Bedulu. Selain sarkofagus terdapat cetakan nekara di Banjar Manuaba Desa Kendran. Arca tradisi megalitik juga ditemukan di beberapa pura antara lain, di Pura Dalem Sembuwuk Desa Pejeng Kaja, di Pura Penataran Taman Sari Laplapan Desa Pejeng Kaja, di Pura Puseh Belusung Desa Sanding. Tinggalan arkeologi dari masa klasik terdapat di hampir semua pura sepanjang DAS Petanu. Jenis-jenis arca dari masa ini seperti, arca perwujudan, arca ganesha, arca durgamahisasuramardini, arca agastya, arca siwa, komponen bangunan, arca dwarapala, lingga, yoni atau lingga yoni, arca siwa bhairawa, sangku sudamala, arca catur kaya. Selain arca ditemukan juga relief, miniatur candi, candi tebing, dan ceruk pertapaan. Penerapan konsep ajaran atau sistem religi disesuaikan dengan kondisi wilayah DAS Petanu. Jika dikaitkan dengan filosofi pemujaan terhadap Gunung Batukau atau matahari yang lebih menitikberatkan pemujaan Siwa dalam manifestasi sebagai Dewi Durga atau Dewi Uma. Sebagian besar dari arca yang ditemukan merupakan salah satu sarana pemujaan terhadap simbol kekuatan Siwa sebagai matahari yang diwakili oleh warna merah. Pemanfaatan fitur penyucian terhadap air, seperti beji dan bendungan untuk mengaliri subak, merupakan pemulian terhadap danau atau Dewi Danu. Konsep gunung dan danau ini merupakan satu kesatuan jika dikaitkan dengan filosofi di atas. Gunung merupakan simbol purusa dalam konteks Siwa dan danau merupakan simbol sakti atau kekuatan daripada Siwa. Pemanfaatan material yang terdapat pada lembah atau tebing sungai sebagai fitur atau artefak merupakan salah satu upaya atau kearifan lokal dalam pelestarian lingkungan termasuk vegetasinya.

 

Gua Gajah dan Dua Kolam di depan gua dengan Arca Perwujudan

Ditulis oleh: I Nyoman Sunarya