PENELITIAN DI PURA ULUN SUWI SENAPAHAN, DESA SENAPAHAN, KEDIRI, TABANAN

Saring Konten

PENELITIAN DI PURA ULUN SUWI SENAPAHAN, DESA SENAPAHAN, KEDIRI, TABANAN


Pura Ulun Suwi Senapahan terletak pada koordinat 8˚32̍′03.45″LS 115˚09′14.78″BT, dengan ketinggian 129 MDPL. Selain Pura Ulun Suwi sebagai pura utama, pada lokasi ini juga terdapat Pura Beji yang terletak pada koordinat 8˚32̍′02.99″LS 115˚09′13.48″BT dengan ketinggian 121 MDPL. Luas Pura secara keseluruan ± 80 are, termasuk laba pura. pura ini disungsung oleh masyarakat adat Senapahan dan beberapa subak di sekitarnya. Sebelum dilakukan observasi, terlebih dahulu dilakukan pertemuan awal tujuan dari surat permohonan untuk peninjauan pura ini yang dilakukan oleh Jro Mangku Pura Ulun Suwi. Selanjutnya dilakukan observasi oleh Tim Balai Arkeologi Bali yang terdiri atas I Wayan Sumerata, S.S, Hedwi Prihatmoko, M.Hum, I Nyoma Deksen, Ida Ayu Masruti, dan Desak Nyoman Misnawati.

 

Hasil Obesrvasi ditemukan beberapa objek yang diduga benda cagar  budaya seperti motif hias yang terdapat di penyengker pura, dan di Palinggih Ulun Suwi. Selain itu juga ditemukan beberapa arca yang berfungsi sebagai umpak/ penopang tiang pada bangunan pura yang terbuat dari tufa. Umpak-umpak ini berbentuk binatang seperti macan, singa, dan dwarapala. Pada Palinggih Ratu Ngurah Tangkeb Lelangit ditemukan angka tahun 31-12-1964, dan di kori agung dituliskan Kamis Bulan Maret 1933. Di dekat palinggih Ratu Nyoman ditemukan menhir dengan bahan batu andesit. Pada areal pura beji terdapat mata air yang cukup besar dan dipercaya sebagai danau oleh pengempon pura.

 

Di Pura ini tidak ditemukan tinggalan-tinggalan yang cukup tua dan dapat menceritakan kesejarahan pura ini. Setelah dilakukan wawancara dengan Jro Mangku Pura, dikatakan bahwa pihak pengempon pura tidak memiliki sejarah tertulis tentang keberadaan pura Ulun Suwi, meskipun secara lisan pura ini dipercaya sudah cukup tua, yaitu pada masa kejayaan Kerajaan Tabanan.  Meskipun demikian, pihak pengempon pura berencana untuk melestarikan pura ini sesuai dengan keasliannya, khususnya terkait dengan motif hiasnya, sehingga koordinasi sangat diperlukan dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan.

 

Ditulis oleh: Wayan Sumerta dan Hedwi Prihatmoko