PERMUKIMAN DI BEKAS KAWAH DORO BENTE, DESA SORI TATANGA, KECAMATAN PEKAT, KABUPATEN DOMPU, NTB (2018)

Saring Konten

PERMUKIMAN DI BEKAS KAWAH DORO BENTE, DESA SORI TATANGA, KECAMATAN PEKAT, KABUPATEN DOMPU, NTB


Pengembangan penelitian di kawasan Gunung Tambora mulai meluas untuk mengungkap lebih banyak lagi tentang peradaban yang terkubur akibat letusan Gunung Tambora 1815. Upaya ini dilakukan dengan melakukan penelitian yang lebih intensif dan sisteatis untuk mengungkap pusat-pusat permukiman atau peradaban kerajaan Tambora maupun Pekat.  Balai Arkeologi Bali melakukan survei awal pada tahun 2015, untuk menindaklanjuti informasi dari masyarakat dan diperkuat oleh data peta di sekitar Doro Ncanga. Hasil survei menunjukkan di sekitar lokasi tersebut terdapat bentukan seperti bekas pondasi yang terbuat dari batu. Pada awalnya lokasi tersebut disebut Doro Wadu oleh salah seorang penggali pasir di kawasan tersebut. Doro Wadu lebih dikenal oleh masyarakat dengan Doro Bente (dalam bahasa Mbojo), penyebutan ini dikaitkan dengan adanya susunan batu seperti benteng yang terdapat di kawasan ini. Pada tahapan berikutnya dilakukan penelitian untuk mencari bukti-bukti apa saja yang terdapat di Doro Bente dan bagaimana bukti-bukti arkeologis tersebut mampu memberikan gambaran suatu permukiman. Pada tahun 2016 dilakukan ekskavasi dan survei di sekitar Doro Bente. Hasil ekskavasi uji coba (test pit) sebanyak tiga kotak tahap ini  berhasil menemukan tinggalan berupa pecahan keramik, gerabah, sisa tulang binatang, mata panah berbahan logam. Kemudian pada tahun 2017, ekskavasi dilakukan degan membuka dua kotak test pit yaitu Kotak TP4 dan TP5. Hasil ekskavasi pada kedua kotak tersebut menemukan tinggalan berupa pecahan keramik, gerabah, cangkang gastropoda dan pelecypoda, sisa tulang binatang, fragmen tanduk rusa, gigi hewan,  fragmen logam, manik-manik tanah liat, dan batu pipisan. Penelitian di Situs Doro Bente kembali dilanjutkan pada tahun 2018 (tahap III), ini dengan melakukan ekskavasi dan survei. Penelitian tahap III ini berhasil membuka tiga kotak ekskavasi yaitu kotak TP6, TP7 dan TP8. Ketiga kotak test pit tersebut kembali ditemukan bukti-bukti berupa artefak dan ekofak. Temuan tersebut antara lain berupa pecahan gerabah dan keramik, cincin perunggu, bandul pemberat jala, bandul kalung dari bulu babi (sea urchin), manik-manik tanah liat (gambar 1), cangkang kerang klas gastropoda yang dilubangi atau dipecah, tanduk rusa yang dihaluskan bagian pangkalnya, dan fragmen tulang binatang dari suidae, cervidae dan bovidae. Sisa tulang binatang yang berhasil diidentifikasi berupa fragmen mandibula atau rahang cervidae dan suidae serta gigi bovidae. Fragmen keramik yang ditemukan pada setiap kotak ekskavasi terdiri dari bagian tepian, badan, dasar dan bagian telinga buli-buli. Hiasan pada keramik berupa pola hias sulur flora berwarna biru. Secara keseluruhan fragmen keramik yang ditemukan terdiri dari warna putih kebiruan, coklat dan hijau. Beberapa keramik telah diglasir dengan glasir yang cukup tebal dan beberapa nampak sudah retak. Selain itu ada pula jenis fragmen keramik dengan motif timbul berwarna coklat. Keramik tersebut diperkirakan berasal dari Eropa, Tiongkok dan Vietnam.

Gambar 1. Temuan signifikan Situs Doro Bente (Sumber: Dokumen Balar Bali 2018)

 

Survei di wilayah Doro Tabe (di arah timur laut situs), Doro Ncanga (di arah barat situs) dan Nangamiro (di arah barat daya situs), berhasil mengidentifikasi singkapan batuan atau sedimen, untuk dilakukan perbandingan dengan yang dijumpai di situs, baik itu dari hasil ekskavasi dan lingkungan di sekitar situs. Pada lereng dalam kawah di bagian barat Doro Bente, ditemukan cangkang kerang pelecypoda yang insitu atau tertaman dalam batuan induk. Ciri ini merupakan petunjuk kuat bahwa Doro Bente terbentuk di lingkungan laut. Pendapat ini juga didukung oleh hasil survei dengan ahli vulkanologi dari Museum Geologi Bandung (DR. Indyo Pratomo), yang menemukan ciri khusus batuan dengan menampakkan fitur rekah jagung. Fitur ini terjadi akibat magma yang keluar ke permukaan pada lingkungan laut, mendapat daya tekanan dan penurunan suhu akibat kontak dengan air yang ada diatasnya, sehingga berbentuk menyerupai rekahan jagung. Fitur benteng tradisional yang terdapat di Situs Doro Bente dibuat dari batuan gunung api berupa andesit skoria yang dihasilkan oleh erupsi Gunung Tambora maupun lelehan magma pada masa sebelum letusan tahun 1815. Material ini dikumpulkan dari sekitar Doro Bente dan disusun pada bagian selatan (menghadap ke Teluk Saleh), mengikuti punggungan lereng kawah, yang berbentuk bulan sabit terbuka dan melandai ke selatan. Benteng ini berfungsi selain untuk perlindungan, juga untuk menahan sedimen yang ada di bagian dalam bekas kawah, agar tidak tererosi atau terbawa ke laut. Pendapat ini diperkuat dari hasil survei tim dengan ahli geografi dari UGM Yogyakarta (Drs. J. Susetyo Edy Yuwono, M.Sc), yang mempelajari dari pengaruh pola aliran dan konteksnya dengan hasil analisis stratigrafi pada kotak ekskavasi.

 

Ditulis oleh: I Putu Yuda Haribuana