RUMAH PERADABAN KALIBUKBUK - 2018

RUMAH PERADABAN KALIBUKBUK - 2018


Kegiatan Rumah Peradaban Kalibubuk di Situs Candi Buddha Kalibukbuk merupakan kegiatan Rumah Peradaban kedua yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi di tahun 2018. Kegiatan ini dilaksanakan di Situs Candi Buddha Kalibukbuk, Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16-18 Juli 2018 dengan mengundang instansi pemerintah, perangkat desa, siswa dan guru SMA di Kecamatan Buleleng, dan tokoh masyarakat. Rumah Peradaban Kalibukbuk di Situs Candi Buddha Kalibukbuk dilatarbelakangi oleh keberadaan penting dari Situs Candi Buddha Kalibukbuk sebagai salah satu situs yang peninggalannya berupa bangunan suci agama Buddha di Bali. Penelitian terhadap Situs Candi Buddha Kalibukbuk merupakan sebuah upaya untuk mengungkap peradaban adiluhung yang dimiliki oleh masyarakat Bali. Temuan artefaktual berupa stupika dan tablet tanah liat di situs ini diduga sezaman dengan stupika dan tablet yang ditemukan di Tatiapi, Pejeng, Gianyar dan Pura Pegulingan, Tampaksiring, Gianyar. Yaitu berasal dari abad ke-8 sampai 10 Masehi, dimana agama Buddha berkembang dengan pesat di Indonesia. Pemugaran terhadap situs ini dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali pada tahun 2002, diawali dengan pelaksanaan studi teknis terhadap kerusakan temuan, ukuran dan volume temuan. Sisa bangunan tersebut mengalami kerusakan yang cukup serius, kemungkinan disebabkan oleh adanya bencana alam. Pemugaran terhadap Candi Buddha Kalibukbuk hanya dapat dilakukan pada batas bangunan yang ditemukan, yaitu sampai pada kaki sebanyak 17 lapis. Kegiatan pemugaran ini dilakukan selama lima tahap, dan selesai pada tahun 2008. Setelah kegiatan pemugaran selesai, pada tahun 2009 dilakukan peresmian terhadap Situs Candi Buddha Kalibukbuk dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Keberadaan tinggalan arkeologi Situs Candi Buddha Kalibukbuk memiliki nilai-nilai yang berhubungan dengan ideologi yaitu terkait dengan karakter atau kepribadian bangsa, dalam ranah akademis yang berhubungan dengan dunia pendidikan merupakan media belajar mengajar, dan ranah ekonomi berkaitan dengan usaha-usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, situs ini besar artinya dalam upaya menggali nilai-nilai kehidupan masa lalu untuk menegakkan martabat kita sekarang demi membangun masa depan. Kegiatan Rumah Peradaban Kalibukbuk ini bertujuan untuk memasyarakatkan dan mensosialisasikan hasil-hasil penelitian arkeologi yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Bali, kepada seluruh masyarakat terutama masyarakat yang berada di sekitar Situs Candi Buddha Kalibukbuk. Sasaran dari kegiatan ini adalah seluruh lapisan masyarakat selaku pemilik kebudayaan agar dapat mengungkap, memaknai dan mencintai benda-benda tinggalan budaya dan dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Situs Candi Buddha Kalibukbuk.

Rumah Peradaban Kalibukbuk yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Bali, membuat dua jenis media pembelajaran arkeologi yaitu berupa alat peraga pendidikan dan buku pengayaan.

1. Pembuatan alat peraga pendidikan yaitu pembuatan beberapa replika artefak arkeologi dan poster kegiatan penelitian arkeologi situs Candi Buddha Kalibukbuk. Alat-alat peraga diberikan kepada 10 sekolah SMA di Kecamatan Buleleng agar dapat dipergunakan sebagai sarana belajar-mengajar, sehingga pemahaman semakin mudah dan berkesan. Dengan demikian diharapkan akan muncul keinginan yang lebih dalam untuk mengetahui, memaknai dan melestarikan budaya tinggalan masa lalu. Alat peraga replika artefak arkeologi yang dicetak sebanyak 10 set, dan alat peraga berupa poster 10 set. Artefak dan poster tersebut diserahkan kepada SMA Negeri 1 Singaraja, SMA Negeri 2 Singaraja, SMA Negeri 3 Singaraja, SMA Negeri 4 Singaraja, SMK Negeri 1 Singaraja, SMK Negeri 2 Singaraja, SMK Negeri 3 Singaraja, SMK Negeri 1 Sukasada, SMK Triatmajaya, dan SMA Negeri 1 Banjar

2. Buku Pengayaan yaitu penerbitan buku yang berkaitan dengan keberadaan Situs Candi Buddha Kalibukbuk, yang berisi tentang sejarah penemuan situs serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, yang dianggap sebagai nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat masa lalu.

 

Hari Pertama (16 Juli 2018)

Stand pameran arkeologi yang berada di halaman luar dari Situs Candi Buddha Kalibukbuk telah dibuka sejak pukul 07.30 WITA. Stand Pameran ini memajang tinggalan berupa artefak hasil penelitian yang sudah dilakukan di beberapa tempat di Kabupaten Buleleng. Artefak tersebut adalah arca sederhana, kapak perunggu dan gelang perunggu dari situs Tiga Wasa Buleleng, miniatur nekara dari situs Pangkung Paruk, fragmen gerabah Arikamedu dari situs Sembiran, stupika dan tablet tanah liat dari Situs Candi Buddha Kalibukbuk dan prasasti Bengkala dari Desa Bengkala, Buleleng. Para peserta yang akan mengikuti kegiatan pembukaan Rumah Peradaban telah hadir pukul 08.00 WITA. Peserta sejumlah 200 orang murid dan guru pendamping, para undangan dan masyarakat umum.

Gambar: Registrasi peserta kegiatan Rumah Peradaban Kalibukbuk (Sumber: Dokumen Balar Bali)

 

Pelaksanaan Pembukaan Rumah Peradaban Kalibukbuk dimulai pada pukul 10.15 WITA, diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Selanjutnya diikuti dengan laporan Ketua panitia, sambutan dari Kepala Balai Arkeologi Bali dan dibuka secara resmi oleh Kepala UPT Dinas Pendidikan Prov. Bali Kabupaten Buleleng. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Drs. I Wayan Suantika tentang sejarah penemuan situs, proses penelitian dan makna penting di balik keberadaan tinggalan arkeologi di Situs Candi Buddha Kalibukbuk. Kegiatan diakhiri dengan dilakukannya kunjungan ke pameran arkeologi dan destinasi ke Situs Candi Buddha Kalibukbuk oleh peserta.

Gambar: Pameran Arkeolog dan kunjungan situs ke situs Candi Buddha Kalibukbuk oleh peserta (Sumber: Dokumen Balar Bali)

Gambar: Bapak Kepala UPT Dinas Pendidikan Prov. Bali beserta Bapak Kepala Balai Arkeologi Bali dan Penyerahan alat peraga kepada SMA peserta Rumah Peradaban Kalibukbuk (Sumber: Dokumen Balar Bali)

 

Hari Kedua (17 Juli 2018)

Acara pada hari kedua dibagi menjadi dua yaitu pameran arkeologi, dan Arkeologi Goes to School dengan mengunjungi sekolah-sekolah untuk mensosialisasikan arkeologi khususnya tentang Situs Candi Buddha Kalibukbuk melibatkan 40 siswa di masing-masing sekolah. Adapun sekolah-sekolah tersebut yaitu SMK Negeri 1 Sukasada, SMA Negeri 4 Singaraja, SMA Negeri 1 Singaraja.

Gambar: Arkeologi Goes to School (Sumber: Dokumen Balar Bali)

 

Ditulis oleh: Tim Rumah Peradaban Kalibukbuk 2018

Rumah Peradaban Serupa

RUMAH PERADABAN SUMBA - 2018

December 31, 2018

RUMAH PERADABAN SUMBA - 2018 Rumah Peradaban merupakan media interaksi dan wadah informasi hasil-hasil penelitian arkeologi dalam upaya memperkokoh khasanah budaya bangsa serta pendidikan karakter bangsa untuk masyarakat dan pendidikan. Kegiatan Rumah Peradaban Sumba di Situs Lambanapu merupakan kerjasama antara Pusat ...

Baca Selengkapnya

RUMAH PERADABAN LAMBANAPU - 2019

May 06, 2019

RUMAH PERADABAN LAMBANAPU - 2019 Rumah Peradaban Lambanapu merupakan kerjasama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan Balai Arkeologi Bali dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Kegiatan ini melibatkan 550 orang siswa dan guru dari tingkat Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Sum...

Baca Selengkapnya

RUMAH PERADABAN BADUNG - 2019

September 02, 2019

RUMAH PERADABAN BADUNG - 2019 Rumah Peradaban Badung merupakan kerjasama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan Balai Arkeologi Bali. Mengambil Tema Peradaban Bali dalam Pengelolaan Sumber Daya Air. Kegiatan ini melibatkan 550 orang siswa dan guru dari tingkat Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah...

Baca Selengkapnya

RUMAH PERADABAN KALIBUKBUK - 2020

August 29, 2020

RUMAH PERADABAN KALIBUKBUK - 2020 Rumah peradaban merupakan salah satu program kerja dari Balai Arkeologi Bali dalam hal memasyarakatkan hasil penelitian arkeologi. Rumah Peradaban merupakan media interaksi dan wadah informasi hasil-hasil penelitian arkeologi dalam upaya memperkokoh khasanah budaya bangsa serta pendidi...

Baca Selengkapnya